HIKMAH DIBALIK MUSIBAH Oleh Abu Raihana , MA

sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya yang dalam , menguji kesabaran mereka ketika ditimpa musibah, maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran dan ketundukan diri, mengadukan dosa-dosa dan kelalaian kepada-Nya dan memohon curahan rahmat dan ampunan-Nya, niscaya ia adalah orang yang beruntung dan mendapatkan kesudahan yang terpuji

Setelah banyak musibah yang menelan banyak korban jiwa melanda berbagai daerah tanah air kita di akhir tahun ini, mulai dari banjir bandang di Wasior Papua hingga yang terkini merapi di Yogyakarta dan tsunami di Mentawai.Banyak orang yang berkomentar dan melakukan analisa, tanggapan dan komentar mulai dari yang bernilai ilmiah hingga berbau mistis. Diantara analisa yang mereka kemukakan seperti gempa misalnya , bahwa gempa terjadi karena pergerakan lempeng benua dan ada juga yang mengungkapkan bahwa Indonesia berada di jalur rawan gempa.

Lalu bagaimana kita sebagai orang beriman menyikapinya?

Kita tidak menginginkan bahwa sebab yang diungkapkan oleh para ahli ilmu bumi tersebut, tetapi harus kita ingat, mampukah lempeng benua tersebut bergerak dengan sendirinya ? Mampukah bumi itu bergoncang dengan sendirinya?. Jawaban logika orang yang berakal tentu tidak!. Pasti ada zat yang menggerakan dan yang mengguncangkannya. Dialah Allah, pencipta alam semesta, yang menggerakan lempeng benua, mengguncangkan serta mendiamkan bumi kehendak-Nya. Dialah Allah yang memanggil langit dan bumi untuk datang menghadap-Nya, lalu keduanya datang dengan penuh tunduk.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS. Fusshilat : 11)

Jikalau saja langit dan bumi datang menghadap Allah dengan penuh ketundukan, apalah lagi hanya sekedar bergerak atau berguncang selama beberapa menit yang menyebabkan terjadinya musibah gempa!. Setelah kita yakin bahwa musibah gempa ini atas kehendak Allah SWT, lalu apa hikmahnya Allah menimpakan kepada kita?. Bukankah kita mendirikan salat, membayarkan zakat dan berpuasa di Bulan Ramadan?.

Pertama:

Sesungguhnya Allah subhanahua wa ta’alla dengan himahnya yang dalam, hujjah-Nya yang pasti dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu memberi bencana dan cobaan tergadap para hamba-Nya. Menguji kesabaran mereka ketika ditimpa musibah, maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran dan ketundukan diri, mengadukan dosa-dosa dan ketaatannya kepada-Nya dan memohon curahan rahmat dan ampunan-Nya. niscaya ia adalah orang yang beruntung dan mendapatkan kesudahan yang terpuji. Allah berfirman dalam kitab-Nya:

Allif laam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan” Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?, dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta””. (QS, Al-Ankabut: 1-3)

Kedua:

Allah telah menjelaskan di dalam banyak ayat Al-quran bahwa bencana , siksaan, azab yang menimpa umat-umat terdahulu berbentuk topan, angin bohorok, petir yang menyambar, dan lain-lain, semuanya dikarenakan dosa-dosa dan kekafiran mereka, sebagaimana firman Allah SWT :

Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang telah kami timpakan kedanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS, Al-Ankabut: 40).

Ketiga:

Selama ini memang kita melakukan salat, membaca Al-Quran serta membayar  zakat di bulan Ramadhan. Akan tetapi saat kita keluar dari rumah coba bandingkan, lebih banyak mana jumlah orang yang salat dengan yang tidak? Coba lihat di jalan-jalan lebih banyak mana jumlah wanita yang menutup auratya daripada dengan wanita yang memamerkan auratnya? Coba lihat di kantor-kantor,perusahaan, lebih bayak mana orang yang menghasilkan unag dengan cara yang halal daripada yang tidak halal? Tontonan kita setap hariberdendangkan musik dan tarian yang dikutuk Allah!

Nabi bersabda: Bila zina dan riba merajalela di sebuah negeri , berarti mereka mengundang kedatangan azab Allah (HR Thabrani, hadist hasan)

Hadist diatas menjelaskan bahwa bencana datang bukan saja bila tidak ada sama sekali oranhg yang shalat, berzakat dan berpuasa akan tetapi jumlah maksiat lebih banyak hingga merajalela. Dalam hadist yang diriwayatkan lagi. Dia bertanya kepada Nabi SAW “Apakah kami akan ditimpa bencana juga sedangkan masih ada orang saleh ditengah-tengah kami? Nab menjawab “Iya dikala kemaksiatan dan perzinahan lebih banyak”.

Di zaman masa pemerintahan Umar bin Khatab pernah terjadi gempa yang menggunacng madinah, lalu Umar berkhutbah berkata” Wahai manusia, gempa ini terjadi disebabkan dosa yang kalian lakukan ! Jika terjadi lagi aku akan tinggalkan kota Madinah.

sumber: Buletin jumat MARKAZ ISLAM BOGOR edisi 330/28 Dzulqaidah 1431 H/ 5 November 2010

Comments are closed.

Archives
TANGGAL
November 2010
S M T W T F S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
IPB
IPB Badge
DIPLOMA IPB
IPB Badge